Popular Posts
Showing posts with label Inspiring. Show all posts
Showing posts with label Inspiring. Show all posts
Tuesday, June 25, 2013
Bersabar dan yakin
Suatu hari, seorang gadis yang sedang putus cinta menangis di taman. Saat itu datang seorang kakek bertanya padanya,
KAKEK : “Kenapa kamu menangis?”
GADIS : “Aku sangat sedih, kenapadia meninggalkan ku?”
KAKEK : sambil tertawa dan berkata, “Kamu bodoh sekali nak.”
GADIS : “Kakek ini bagaimana? Jangan menghinaku. Aku sudah sangat sedih karena putus cinta. Tak apalah kalau kakek tak membujukku. Tapi kakek malah menertawaiku”
KAKEK :, “ kamu Bodoh,, kamu tak perlu sedih. Sebab yang seharusnya sedih itu adalah dia,”
GADIS : “Lho, Kenapa dia yang bersedih, kan dia yang memutuskan ku?”
KAKEK : “ iya, Karena kamu hanya kehilangan orang yang tidak mencintaimu, tapi dia telah kehilangan orang yang sangat mencintainya”
GADIS : sambil menangis dan berkata "tapi aku sangat sedih kek"
KAKEK : Apakah dengan bersedih dia akan kembali kepadamu dan mencintaimu. "Bersabarlah nak" dan yakinlah, bahwa cinta yang indah, telah menantimu didepan sana "
Monday, June 24, 2013
Point nya adalah ...
Si tukang cukur bilang.
“Saya tidak percaya Allah itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu ???” tanya si customer.
“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di jalanan... untuk menyadari bahwa Allah itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika
Allah itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Allah ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Allah Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”
Si customer diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si customer pergi
meninggalkan tempat si tukang cukur.
Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar, gimbal, kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si customer balik ke tempat tukang cukur dan berkata, “Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.”
Si tukang cukur tidak terima, “Kamu kok bisa bilang begitu ? Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”
“Tidak!” elak si customer.
“Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang diluar sana”, si customer menambahkan.
“Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!”, sanggah si tukang cukur. “Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya”, jawab si tukang cukur membela diri.
“Cocok!” kata si customer menyetujui. “Itulah point utama-nya!. Sama dengan Allah, ALLAH ITU JUGA ADA ! Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”
Never waste
Seorang Cewek Kepengen Banget Dikasih Cincin Sama Cowonya, Pas Ketemu...Cowonya Malah Ngasih Teddy Bear.
.
Cewe Itu Ngebuang Teddy Bearnya Kejalan, Si Cowo Itu Berniat Untuk Mengambil Boneka Teddy Bearnya ...
Malangnya si Cowok malah Ke "TABRAK" Mobil...Terus Si Cowonya Meninggal.
.
Cewenya Menangis Terus Dia Meluk Boneka Teddy Bearnya, Tanpa Di Sengaja Kepencet Ternyata Teddy Bearnya Bersuara "Will You Marry Me??" Dengan Suaranya Yang Lucu, Terus Keluar Cincin Dari Teddy Bearnya, Tapi Semuanya Telat Karena Ke'egoisan Si Cewe
.
Untuk Semuanya Jangan Pernah Kalian Sia-siakan Orang Yg Sudah Mencintai Kalian Sebelum Dia Pergi Tuk "SELAMANYA"
.
Cewe Itu Ngebuang Teddy Bearnya Kejalan, Si Cowo Itu Berniat Untuk Mengambil Boneka Teddy Bearnya ...
Malangnya si Cowok malah Ke "TABRAK" Mobil...Terus Si Cowonya Meninggal.
.
Cewenya Menangis Terus Dia Meluk Boneka Teddy Bearnya, Tanpa Di Sengaja Kepencet Ternyata Teddy Bearnya Bersuara "Will You Marry Me??" Dengan Suaranya Yang Lucu, Terus Keluar Cincin Dari Teddy Bearnya, Tapi Semuanya Telat Karena Ke'egoisan Si Cewe
.
Untuk Semuanya Jangan Pernah Kalian Sia-siakan Orang Yg Sudah Mencintai Kalian Sebelum Dia Pergi Tuk "SELAMANYA"
Keledai dalam sumur
Alkisah, di suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani sibuk memikirkan langkah apa yang harus dilakukannya.
Akhirnya, si petani mengambil keputusan dramatis. Dengan alasan si keledai itu sudah tua dan sumur juga perlu di timbun ( di tutup karena berbahaya ), jadi tak ada gunanya menolong si keledai. Malah dia mengajak para tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.
Pada mulanya, si keledai menyadari apa yang sedang terjadi dan dia menangis penuh kesedihan. Tapi kemudian semua orang takjub karena si keledai menjadi diam justru setelah orang-orang bermaksud menguburnya hidup-hidup.
Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani dan tetangganya melihat ke dalam sumur. Mereka tercengang dengan apa yang dilihatnya...
Walaupun punggungnya terus tertimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Dia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.
Sementara para tetangga si petani terus menuangkan tanah ke atas punggung hewan itu dan si keledai terus mengguncang- guncangkan badannya lalu melangkah naik. Setapak demi setapak. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncat ke tepi sumur dan melarikan diri… !!!
“ Begitu juga hidup ini, setiap masalah-masalah merupakan satu pijakan untuk terus melangkah….
Kita dapat keluar dari masalah yang sangat berat dengan terus berjuang dan pantang menyerah...”
Wednesday, June 19, 2013
Ah Long, Boy from Heaven ( Sebuah Kisah Bocah 6 Tahun Yang Menjalani Kehidupannya Sendiri)
Namanya Ah Long , umurnya baru 6 tahun , kedua orang tuanya telah meninggal dikarenakan mengidap penyakit AIDS. Orang orang disekitarnya mengucilkannya karena Ah Long dilahirkan dengan virus HIV yang mengalir di darahnya.
Ah Long harus menjaga dirinya sendiri karena kebanyakan orang takut untuk mendekat, Satu-satunya sahabat sejatinya adalah anjingnya yang selalu setia menemani disampingnya.
Karena Penyakitnya orang orang disekitarnya tidak menghiraukannya. Sekolah tidak mau menerimanya, bahkan para orang tua murid sepakat akan mencelakainya apabila Ah long muncul kesekolah dan bermain dengan anak anaknya. Bahkan Dokter pun enggan mengobatinya apabila Ah long Kecil sakit.
Satu satunya saudara yang dimiliki Ah long adalah neneknya yang berumur 84 Tahun yang enggan untuk tinggal bersama cucunya.
Ah Long, yang telah tinggal sendirian sejak ibu dan ayahnya meninggal karena AIDS pada tahun 2008 dan 2010 – kini dirawat di sebuah rumah amal untuk sementara waktu. Sebelum diperhatikan, anak kecil ini memasak, mencuci, dan belajar sendiri, dan ia juga memelihara beberapa ekor ayam. Berikut gambar-gambar tentang kehidupan keseharian Ah Long:
* Ini adalah foto tempat tinggalnya sehari-hari
Rumah tipe RSSS ( Rumah Sangat Sederhana Sekali)*
* Menanam Sayur di sekitar Rumah*
* Memasak makanan Sendiri*
* Merenung Sejenak*
* Mengambil air untuk persiapan memasak*
* Bahkan aktivitas belajarpun ia lakukan sendiri tanpa bantaun orang lain*
*Mandi Sendiri*
Karena kondisinya, ia ditolak oleh sekolah dasar terdekat dan sebagian besar orang, termasuk teman-temannya menjauhkan diri darinya. Dan dokter tidak ingin mengobati luka-lukanya dan neneknya – satu-satunya anggota keluarganya –menolak untuk tinggal bersamanya. Bahkan Departemen Kesejahteraan setempat menolak untuk merawat anak itu. Yang menjadi pendampingnya hanyalah seekor anjing yang bernama Lao Hei.
*Sahabat setia dan satu-satunya*
* Ah Long Ketika sedang Bermain Sendirian*
Parahnya, Ah Long menerima tunjangan subsistensi bulanan dari biro sipil sebesar 70 yuan (sekitar 90 ribu rupiah), yang tentu saja tidak cukup baginya.
Sejak cerita Ah Long disorot oleh media, anak itu telah menerima perhatian yang luar biasa dari masyarakat maupun pemerintah di Cina. Awal bulan Desember 2010 lalu, rumah amal di kota Liuzhou, di mana anak itu tinggal di desa kaki bukit dari Gunung Malu, setuju untuk merawatnya. Pemerintah setempat juga akan memberikan biaya hidup sebesar 1.200 yuan (sekitar 1,5 juta rupiah) setiap tahunnya pada Ah Long dan neneknya.
Netizen yang peduli juga menyumbang 24.000 yuan (sekitar 30 juta rupiah)untuk membangun rumah baru untuk Ah Long. Salah satu dari mereka, Zhang Fei, yang mengawasi konstruksi, mengatakan bahwa rumah baru ini memiliki luas sekitar 60 meter persegi. Rumah ini memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan toilet.
Rumah baru (kiri) untuk Ah Long dibangun di sebelah rumah lama (kanan)
Sekarang, ketika Ah Long telah 'mengungsi' ke rumah amal, nasib rumah lamanya tidak diketahui. Tetapi kita gembira untuk mengetahui bahwa penderitaan Ah Long sebagai orang buangan yatim piatu dan orang yang dikucilkan masyarakat akhirnya akan segera berakhir. Sebuah esok yang lebih baik telah menanti!
Zhang Da Bocah Yang Luar Biasa!!
Seorang anak di China pada 27 Januari 2006 mendapat penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah melakukan “Perbuatan Luar Biasa”. Diantara 9 orang peraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya anak kecil yang terpilih dari 1,4 milyar penduduk China.
Yang membuatnya dianggap luar biasa ternyata adalah perhatian dan pengabdian pada ayahnya, senantiasa kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan rasa simpati.
Sejak ia berusia 10 tahun (tahun 2001) anak ini ditinggal pergi oleh ibunya yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.
Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggung jawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai.
Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.
Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan Papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.
Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui.
Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.
Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya.
Hidup seperti ini ia jalani selama 5 tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat. Zhang Da merawat Papanya yang sakit sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya.
Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.
Zhang Da menyuntik sendiri papanya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli.
Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi / suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa mampu, ia nekat untuk menyuntik papanya sendiri. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah terampil dan ahli menyuntik.
Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, pembawa acara (MC) bertanya kepadanya,
"Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu? Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah?
Besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir.
Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!"
Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, "Sebut saja, mereka bisa membantumu."
Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar ia pun menjawab,
"Aku mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama kembalilah!"
Semua yang hadir pun spontan menitikkan air mata karena terharu. Tidak ada yang menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya?
Mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit? Mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, pasti semua akan membantunya.
Mungkin apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku mau Mama kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.
Kisah di atas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Seorang anak berusia 10 tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama 5 tahun. Kesulitan hidup telah menempa anak tersebut menjadi sosok anak yang tangguh dan pantang menyerah.
Zhang Da boleh dibilang langka karena sangat berbeda dengan anak-anak modern. Saat ini banyak anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sudah mampu melakukannya.
Tuesday, June 18, 2013
Papa Baca Keras-Keras Ya Pa, Supaya Jessica Bisa Denger...
Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dia bawa pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya Jessica datang mendekati, berdiri tepat di sampingnya, sambil memegang buku cerita baru. Buku itu bergambar seorang peri kecil yang *imut*, sangat menarik perhatian Jessica,
"Pa, liat!" Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya.Budi menengok ke arahnya, sambil menurunkan kaca matanya. Kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi
"Wah, buku baru ya, Jes?"
"Ya, Papa" Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya.
" *Bacain* Jessi *dong*, Pa," pinta Jessica lembut.
"Wah Papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang *deh*," sanggah Budi dengan cepat.Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakkan di depannya. Jessica bengong. Tapi ia belum menyerah. Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu
"Pa, Mama bilang, Papa mau baca untuk Jessi."Budi mulai agak kesal,
"Jes, Papa sibuk, sekarang Jessi suruh Mama baca ya?"
"Pa, Mama *cibuk* terus. Nih, Papa *liat* gambarnya, lucu-lucu."
"Lain kali Jessica. Sana! Papa lagi banyak kerjaan!"Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi. Menit demi menit berlalu, Jessica menarik napas panjang dan tetap di situ, berdiri di tempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi.
"Pa..., gambarnya bagus. Papa pasti suka..."
"Jessica, PAPA BILANG, LAIN KALI!!" Budi membentaknya dengan keras.Kali ini Budi berhasil, semangat Jessica kecil terkulai, hampir menangis, matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya.
"Iya, Pa. Lain kali ya, Pa?"Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya, ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah.
"Pa, kalau Papa ada waktu, Papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa *denger*...."Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi, Buku cerita Peri *imut*, belum pernah dibacakan bagi dirinya. Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras
"Buukk..!!"Beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabok yang melajukan kendaraannya dengan kencang di depan rumah Budi. Tubuh Jessica mungil terentak beberapa meter. Dalam keadaan yang begitu panik, ambulance didatangkan secepatnya,. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih
"Jessi takut Pa, Jessi takut Ma, Jessi sayang Papa-Mama."Darah segar terus keluar dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat. Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi. Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji. Kini yang ada hanyalah penyesalan. Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana pun tidak dia penuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan Budi tangan mungil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita, kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali,
"...Papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa dengar..."Kata-kata Jessi itu mengiang kembali. Sore itu setelah segalanya berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati. Canda dan riang Jessica kecil tidak akan terdengar lagi. Budi mulai membuka buku cerita peri *imut* yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan Jessica di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan koyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil. Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan sura keras. Tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras. Ia terus membacanya dengan keras-keras, halaman demi halaman, dengan berlinang air mata.
"Jessi, dengar Papa baca ya..."Selang beberapa kata, hatinya memohon lagi
"Jessi, Papa mohon ampun, Nak. Papa sayang Jessi.."Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya. Tak kuasa menahan sakit itu, Budi bersujud dan menangis..., memohon satu kesempatan lagi untuk belajar mencintai.
* * *
Seseorang yang mengasihi selalu mengalikan kesenangan dan membagi kesedihan kita, Ia selalu memberi perhatian kepada kita karena ia peduli kepada kita.
ADAKAH “PERHATIAN TERBAIK” ITU BEGITU MAHAL BAGI MEREKA ? BERILAH “PERHATIAN TERBAIK” WALAUPUN ITU HANYA SEKALI
Bukankah Kesempatan untuk memberi perhatian kepada orang-orang yang kita cintai itu sangat berharga ?
Kisah si Burung pipit nan malang
Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor burung pipit merasakan tubuhnya kepanasan. Lalu ia mengumpat kepada lingkungan yang tidak bersahabat dengannya, kemudian ia memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dulu menjadi habitatnya. Ia terbang ke utara, yang konon kabarnya disana udaranya selalu sejuk dan dingin. Ternyata benar, ia mulai merasakan sejuknya udara di utara. Makin ke utara, ia makin merasakan sejuknya udara disana. Ia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.
Terbawa oleh nafsu, ia tidak sadar bahwa kepakan sayapnya telah tertempel oleh gumpalan salju. Makin lama makin tebal, dan akhirnya ia terjatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus oleh salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di tubuhnya justru semakin tebal hingga akhirnya si burung pipit tidak mampu berbuat apa-apa. Dia menyangka bahwa riwayatnya telah tamat pada saat itu, dan ia merintih sambil menyesali nasibnya.
Mendengar suara rintihan si burung pipit, ada seekor kerbau yang kebetulan melintas dan menghampirinya. Namun si pipit kecewa, mengapa yang datang hanya seekor kerbau. Ia pun menghardik si kerbau agar menjauh dan dalam hatinya mengatakan, makhluk yang tolol tidak akan berbuat sesuatu untuknya.
Si kerbau tidak banyak bicara. Ia hanya berdiri, lalu ia buang air kecil tepat di atas burung pipit tersebut. Si Pipit makin marah dan memaki-maki si kerbau. Namun, si kerbau tetap diam tanpa bicara sepatah kata. Ia pun maju selangkah, dan membuang kotorannya tepat di atas tubuh si Pipit. Dan seketika, Pipit tidak dapat bicara karena telah tertutup kotoran kerbau, dan si burung pipit mengira dia akan mati karena tidak bisa bernafas.
Namun perlahan-lahan, ia merasakan kehangatan. Salju yang menempel pada bulu-bulunya, perlahan-lahan meleleh oleh hangatnya kotoran kerbau tadi. Kemudian ia dapat bernafas lega dan dapat melihat kembali langit yang cerah.
Si Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas-puasnya. Karena mendengar suara nyanyian si burung pipit, ada seekor kucing yang mencari dan menghampiri sumber suara tersebut. Ia mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung pipit, kemudian menimang-nimangnya, menjilati tubuhnya, mengelus, dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu-bulu si burung pipit.
Setelah bulunya bersih, si burung pipit bernyanyi dan menari kegirangan. Ia mengira, telah mendapatkan teman yang baik dan baik hati.
Tapi, apa yang terjadi kemudian. Seketika itu juga, dunia terasa begitu gelap baginya. Dan,tamatlah riwayat si burung pipit saat itu.
Dalam kehidupan, tidak semuanya yang nampak baik itu baik, jahat itu jahat. Namun bisa saja berbalik meskipun terlihat elok, karena halaman tetangga yang nampak hijau belum tentu cocok buat kita. Dan yang terpenting, baik buruknya penampilan, jangan digunakan sebagai satu-satunya tolak ukur. Serta ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan sampai lupa serta keburu nafsu, agar kita tidak melupakan apa yang seharusnya dilakukan selanjutnya.
kisah si anjing kecil
Seekor anak anjing yang kecil mungil sedang berjalan-jalan di ladang pemiliknya. Ketika dia mendekati kandang kuda, dia mendengar binatang besar itu memanggil dirinya.
Kuda : “Hai anjing kecil, kamu pasti masih baru disini ya? Cepat atau lambat kamu akan mengetahui, bahwa sebenarnya pemilik ladang ini sangat mencintai saya lebih daripada binatang lainnya. Itu karena, saya bisa mengangkut banyak barang untuknya. Dan menurut saya, binatang sekecil kamu, tidak akan memiliki nilai sedikitpun baginya”. Kata si kuda dengan wajah sinis.
Lalu, anjing kecil itupun menundukkan kepalanya dan segera pergi dengan hati yang iba. Sesaat kemudian, dari kandang sebelah, ia mendengar suara seekor sapi.
Sapi : “Anjing kecil! Tahukah kamu, bahwa saya adalah binatang yang paling terhormat disini. Karena Istri pemilik ladang ini membuat mentega dan keju dari susu saya. Huh, kamu tentu tidak berguna bagi keluarga disini”, ucap si sapi.
Kesedihannya belum mereda, lalu anjing kecil itu pun mendengar teriakan seekor domba yang mengatakan sesuatu kepada si Sapi.
Domba : “Hai Sapi, kedudukanmu tidak lebih tinggi dari saya! Karena sayalah yang memberikan mantel bulu kepada pemilik ladang ini, maka dari itu saya juga telah memberikan mantel bulu sebagai penghangat ketika dingin terasa menusuk tulang kepada pemilik ladang ini. Tapi.., omonganmu tadi pada si anjing kecil itu ada benarnya juga. Karena dia memang sama sekali tidak ada manfaatnya disini!”.
Satu per satu, binatang lainpun ikut meledek anjing kecil itu. Sambil menceritakan betapa tingginya kedudukan mereka di ladang tersebut, ayam pun berkata bagaimana ia telah memberikan telur. Kucing pun bangga, karena ia telah memusnahkan tikus-tikus pengerat di ladang itu. Dan, semua binatang sepakat, bahwa si anjing kecil itu adalah makhluk yang benar-benar tidak berguna, karena setiap binatang sanggup memberikan kontribusi kepada pemilik ladang.
Terpukul oleh perkataan dari binatang-binatang lain, anjing kecil itupun segera pergi ke tempat sepi, dan mulai menangis menyesali nasibnya.
“Sedih rasanya, sudah yatim piatu, dianggap tak berguna, dan disingkirkan dari pergaulan”, kata si anjing kecil dengan nada sedih.
Ternyata, tidak jauh dari situ ada seekor anjing tua yang mendengar tangisannya. Dan kemudian anjing tua itupun menyimak keluh kesah si anjing kecil.
Anjing kecil berkata, “Anjing tua, saya tidak dapat memberikan pelayanan kepada keluarga disini. Sayalah hewan yang paling tidak berguna disini”.
Karena terharu, anjing tua itupun berkata, “Memang benar, bahwa kamu terlalu kecil untuk menarik pedati, dan kamu juga tidak akan bisa memberikan telur, susu, ataupun bulu. Tetapi, bodoh sekali rasanya jika kamu menangisi sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan. Kamu harus menggunakan kemampuan yang telah diberikan oleh Sang Pencipta untuk membawa kegembiraan”.
Malam itu, ketika pemilik ladang baru pulang dengan wajah yang terlihat lelah. Anjing kecil itupun berlari menghampirinya, menjilat kakinya, dan melompat ke pelukannya. Sambil menjatuhkan diri ke tanah, anjing kecil dan pemilik ladang itupun berguling-guling di rumput, disertai tawa riang mereka.
Akhirnya, pemilik ladang itupun memeluk si anjing kecil erat-erat sambil mengelus-elus kepalanya, dan berkata, “Meskipun saya pulang dalam keadaan letih, tapi rasanya semua jadi sirna karena kau menyambutku semesra ini wahai anjing kecil. Kamu sungguh yang paling berharga disini, diantara semua binatang-binatang yang ada di ladang ini. Walaupun kamu kecil, tapi kamu memberikan kasih sayang yang sangat besar”.
Jangan sedih ketika kita tidak dapat melakukan sesuatu seperti orang lain jika anda memang tidak memiliki kemampuan untuk itu. Tetapi, apa yang dapat kita lakukan, kerjakanlah itu dengan sebaik-baiknya. Jangan merasa sombong ketika kita telah melakukan banyak hal kepada orang lain. Karena orang yang tinggi akan direndahkan, dan orang yang rendah hati, akan di tinggikan.
Catatan perjalanan kehidupan
Suatu ketika, ada sepasang pengembara yang sedang melakukan perjalanan dengan melintasi padang pasir yang luas. Sepanjang mata memandang, hanya tampak garis pasir yang terbentang. Dan tapak-tapak kaki yang ada di belakang mereka, membentuk jejak-jejak yang tak putus. Susunannya meliuk-liuk, tampak seperti garis kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka lalui. Sesekali debu pasir menerpa tubuh, dan membuat mereka berjalan merunduk agar terhindar dari angin yang membawa debu itu.
Tiba-tiba ada badai besar yang datang, hembusannya sangat kuat. Membuat tubuh mereka bergoyang, merekapun saling berpegangan, agar dapat bertahan dari badai itu. Namun ada musibah lainnya yang menimpa mereka. Yaitu bekal minuman mereka terbawa oleh badai, dan di dalam fikiran para pengembara tadi, mereka akan mati kehausan di tengah padang pasir yang luas.
Akhirnya, keduanyapun duduk termenung, menyesalkan hilangnya bekal mereka. Lalu seorang dari mereka, tampak menulis sesuatu di atas pasir dengan ujung jarinya. Goresan yang ditulisnya adalah, “Kami sedih, kami telah kehilangan bekal minuman kami di tempat ini”.
Melihat tulisan itu, pengembara satunya lagi tampak bingung, namun tetap membereskan perlengkapannya. Tak lama kemudian, setelah badai benar-benar pergi, keduanya pun melanjutkan perjalanan.
Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat sebuah oasis dari kejauhan.”Wah kita selamat kawan! Lihat, ada air disana! Mudah-mudahan ini bukan fatamorgana”, seru seorang pengembara. Setelah berlari menuju ke arah air itu, ternyata memang ada sebuah kolam kecil dengan air yang cukup banyak. Keduanyapun segera minum sepuas-puasnya dan mengambil sisanya untuk bekal perjalanan.
Sambil beristirahat, seorang dari pengembara itu mulai menulis sesuatu. Pisau yang digenggamnya digunakan untuk memahat di atas sebuah batu, yang bertuliskan, “Kami sangat bahagia saat ini, kami dapat melanjutkan perjalanan, karena menemukan tempat ini”.
Merasa bingung dengan tingkah sahabatnya itu, salah satu dari seorang pengembara itupun bertanya kepada temannya, “Hei, mengapa kini engkau menulis di atas batu, sementara tadi engkau hanya menulis di atas pasir saat kita kehilangan bekal minuman?!”.
Mendengar pertanyaan sahabatnya, sang pengembarapun menjawab,
“Teman, saat kita mendapatkan kesusahan, tulislah semuanya itu di atas pasir. Biarkan angin keikhlasan akan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu akan hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. Biarkan semuanya hilang, lenyap, dan pupus. Namun ingatlah, saat kita mendapatkan kebahagiaan, pahatlah kemuliaan itu di atas batu. Agar tetap terkenang, dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan kesenangan itu dalam kerasnya batu, agar tidak ada sesuatu yang dapat menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada, biarkan semuanya tersimpan”.
Akhirnya, kedua pengembara itupun tersenyum. Bekal minuman mereka telah cukup, dan merekapun kembali meneruskan perjalanan mereka.
Refleksi diri
Suatu hari, seorang anak kecil dan ayahnya berjalan di sebuah gunung. Karena jalannya licin, tiba-tiba anak itu tergelincir dan menjerit, “Ahh..”. Tetapi betapa kagetnya dia, ketika terdengar suara di balik gunung. Dengan penuh rasa ingin tahu, ia kembali berteriak, “Hay, siapa kau?!”. Ia mendengar lagi suara dari balik gunung. Mendengar hal itu, ia merasa dipermainkan. Dan dengan marah, ia kembali teriak, “Kau pengecut!”. Tapi sekali lagi, dari balik gunung juga terdengar suara balasan.
Bingung dengan apa yang telah terjadi, kemudian si anak kecil bertanya pada ayahnya. “Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? Siapa orang yang menirukan ucapanku tadi? Mengapa aku tidak melihatnya?”. Mendengar pertanyaan anak kecil tadi, sang ayah lalu berkata, “Anakku, ayo kita pulang”.
Kemudian, sang ayah berteriak sekuat tenaga pada gunung, “Aku mengagumimu..”. sekali lagu ayahnya berteriak, “Kau adalah sang juara..!”.
Anak itu masih saja terheran-heran dan belum juga bisa memahami. Kemudian ayahnya menjelaskan, “Anakku, orang-orang menyebutnya gema. Tetapi sesungguhnya, ada makna lain dalam kehidupan kita ini. Ia akan mengembalikannya pada kita apa saja yang sudah kita lakukan dan kita katakan, hidup kita ini hanya refleksi dari segala tindakan kita”.
Bila kita ingin mendapatkan ketulusan dan kasih sayang di dunia ini, maka berikanlah ketulusan dan kasih sayang dari hati kita. Bila kita ingin mendapatkan kebaikan dari orang lain, maka berikanlah kebaikan dari diri kita. Hal ini berlaku pada siapa saja dan berlaku pada segala aspek dalam perjalanan kehidupan. Hidup akan memberikan apa telah kita berikan kepadanya, maka sebenarnya hidup ini bukan suatu kebetulan. Hidup adalah pantulan dari diri kita, juga bunga dari diri kita.
Arti didikan keras seorang Ayah
Lira adalah seorang anak tunggal dari sebuah keluarga yang sederhana yang tinggal di pinggiran kota. Walaupun anak satu-satunya, sejak kecil ia seringkali dimarahi oleh ayahnya, di mata sang ayah, tidak ada satupun pekerjaan yang benar. Setiap harinya, Lira selalu berusaha keras untuk mengerjakan sesuatu yang diinginkan oleh ayahnya. Tetapi tetap saja, karena hanya ketidakpuasan sang ayah yang ia dapatkan.
Begitupun juga pada saat Lira berusia 17 tahun, tidak ada ucapan kalimat “Selamat ulang tahun” yang keluar dari mulut ayahnya. Dan semua hal tersebut membuat Lira semakin membenci ayahnya. Karena sosok ayah yang ada dalam dirinya, adalah sosok seorang ayah yang pemarah dan juga tidak pernah memperhatikan dirinya. Hingga akhirnya, Lira pun memberontak dan tidak pernah satu haripun ia lalui hari tanpa bertengkar dengan ayahnya.
Beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-17, ayahnya meninggal dunia. Akibat penyakit kanker yang tidak pernah beliau katakan kepada siapapun, kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, tetapi di dalam diri Lira masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya. Hingga sampai suatu hari ketika Lira membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan almarhum ayahnya, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi, dan di atasnya tertulis, ‘Untuk anakku tersayang’.
Beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-17, ayahnya meninggal dunia. Akibat penyakit kanker yang tidak pernah beliau katakan kepada siapapun, kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, tetapi di dalam diri Lira masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya. Hingga sampai suatu hari ketika Lira membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan almarhum ayahnya, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi, dan di atasnya tertulis, ‘Untuk anakku tersayang’.
Dengan hati-hati, diambilnya bingkisan tersebut, dan Lira pun mulai membukanya. Di dalam bingkisan tersebut, terdapat sebuah jam tangan serta sebuah buku lama yang ia inginkan. Selain kedua benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda yang merupakan warna kesukaan Lira. Perlahan ia membuka kartu ucapan tersebut, dan mulai membaca tulisan yang ada disana.
“Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mempercayai diriku yang rendah ini untuk memperoleh karunia tersebut dalam hidupku. Ku mohon ya Tuhan, jadikan buah kasih hamba ini menjadi orang yang berarti bagi sesama dan juga bagiMu. Janganlah kau berikan jalan yang lurus dan luas membentang baginya, tetapi berikan pula jalan yang penuh liku dan duri, agar dia dapat meresapi kehidupan yang seutuhnya. Sekali lagi ku mohon ya Tuhan, sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia tempuh, jadikan ia sesuai dengan kehendakmu.Selamat ulang tahun anakku, doa ayah selalu menyertaimu”.
Tulisan dalam kartu itu membuat air mata Lira tak terbendung lagi. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang telah terjadi. Dalam pelukan ibunya, Lira pun menceritakan tentang isi dan tulisan yang terdapat dalam bingkisan peninggalan ayahnya itu.
Sang ibu, lalu menceritakan bahwa ayahnya memang sengaja merahasiakan penyakit yang diderita sejak lama. Dan sengaja mendidikmu dengan keras, agar kamu kelak menjadi sosok wanita yang kuat dan tegar.
Cerita inspiratif di atas mengingatkan kita untuk tidak selalu melihat apa yang kita lihat dengan kedua mata kita. Tetapi lihat juga sesuatu dengan mata hati kita. Karena apa yang kita lihat dengan kedua mata kita, terkadang tidak sepenuhnya seperti apa yang sebenarnya terjadi. Kasih sayang seorang ayah, Ibu, saudara-saudara, atau orang-orang disekitar kita, dan terutama kasih Yang Maha Kuasa yang dilimpahkan kepada kita dengan berbagai cara. Hanyalah tinggal bagaimana cara kita menerima, menyerap, mengartikan, dan membalas kasih sayang itu.
Kisah si Tukang Kayu
Alkisah, seorang Tukang Kayu yang merasa sudah tua dan berniat untuk pensiun dari profesinya sebagai Tukang Kayu yang sudah ia jalani selama puluhan tahun. Ia ingin menikmati masa tuanya bersama istri serta anak cucunya. Sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja, ia sebelumnya menyadari bahwa ia akan kehilangan penghasilan rutin yang setiap bulan ia terima. Bagaimana pun itu, ia lebih merasakan dan mementingkan tubuhnya yang sudah termakan usia karena ia merasa tidak dapat lagi melakukan aktivitas seperti tahun-tahun sebelumnya.
Suatu hari, kemudian ia mengatakan rencana ingin pensiun kepada mandornya. “Saya mohon maaf Pak, tubuh saya rasanya sudah tidak seperti dulu, saya sudah tidak kuat lagi untuk menopang beban-beban berat di pundak saya saat bekerja..”.
Setelah sang mandor mendengar niat Tukang Kayu tersebut, ia merasa sedih. Karena sang mandor akan kehilangan salah satu Tukang Kayu terbaiknya, ahli bangunan handal yang dimiliki dalam timnya. Namun apalah daya, mandor tidak dapat memaksa untuk mengurungkan niat si Tukang Kayu untuk berhenti bekerja.
Setelah sang mandor mendengar niat Tukang Kayu tersebut, ia merasa sedih. Karena sang mandor akan kehilangan salah satu Tukang Kayu terbaiknya, ahli bangunan handal yang dimiliki dalam timnya. Namun apalah daya, mandor tidak dapat memaksa untuk mengurungkan niat si Tukang Kayu untuk berhenti bekerja.
Terlintas dalam fikiran sang mandor, untuk meminta permintaan terakhir sebelum dirinya pensiun. Sang mandor memintanya untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk yang terakhir kalinya. Untuk sebuah proyek dimana sebelum Tukang Kayu tersebut berhenti bekerja.
Akhirnya, dengan berat hati Tukang Kayu menyanggupi permintaan mandornya meskipun ia merasa kesal karena jelas-jelas dirinya sudah bicarakan akan segera pensiun.
Di balik pengerjaan proyek terakhirnya, ia berkata dalam hati bahwa dirinya tidak akan mengerjakannya dengan segenap hati. Sang mandor hanya tersenyum dan mengatakan pada Tukang Kayu pada hari pertama ketika proyeknya dikerjakan, “Seperti biasa, aku sangat percaya denganmu. Jadi, kerjakanlah dengan yang terbaik. Seperti saat-saat kemarin kau bekerja denganku. Bahkan, dalam proyek terakhir ini kamu bebas membangun dengan semua bahan-bahan yang terbaik yang ada”.
Tukang Kayu itupun akhirnya memulai pekerjaan terakhirnya dengan malas-malasan. Bahkan dengan asal-asalan ia membuat rangka bangunan. Ia malas mencari, maka ia menggunakan bahan-bahan bangunan berkualitas rendah. Sangat disayangkan, karena ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya.
Hari demi hari berlalu, dan akhirnya, rumah itupun selesai. Ditemani Tukang Kayu tersebut, sang mandor datang memeriksa. Ketika sang mandor memegang gagang daun pintu depan hendak membuka pintu, ia lalu berbalik dan berkata, “Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu”.
Betapa kagetnya si Tukang Kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak awal ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya, ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Akibatnya, sekarang ia harus tinggal di sebuah rumah yang ia bangun dengan asal-asalan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)
.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)